News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Implementasi Kurikulum Merdeka, SDN 1 Bejod Gelar Pasar Jajanan Kue Tradisional

Implementasi Kurikulum Merdeka, SDN 1 Bejod Gelar Pasar Jajanan Kue Tradisional

Camat Wanasalam, Kabupaten Lebak, Banten, tengah belanja kue tradisional di SDN 1 Bejod. (16/3). Poto: LN. 
   Lebak, LineNews.id - Dalam rangka implementasi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P-5) pada kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar, SDN 1 Desa Bejod Kecamatan Wanasalam melaksanakan inovasi dengan menggelar giat pasar jajanan kue tradisional. Produk lokal wisdom itu sengaja didagangkan untuk mengenalkan hasil olah tangan anak-anak pelajar setempat, giat dilaksanakan di depan gedung Sekolah setempat, Kamis kemarin (16/03). 

     Hadir dalam momen giat tersebut Camat Wanasalam, Dadan R Wardana, Korwil Pendidikan Kecamatan Wanasalam Suyono seluruh guru dan wali murid serta tamu undangan.

     "Ada sebanyak 60 jenis kue makanan tradisional yang dibuat dan didagangkan oleh anak-anak siswa-siswi SDN 1 Bejod pada kegiatan Market Day hari kemarin itu," ungkap Kepala Sekolah (Kepsek) setempat Hida Nurhidayat kepada LineNews.id.

      Menurutnya, giat Market Day tersebut merupakan salah satu inovasi kegiatan Program P-5 Kurikulum Merdeka dikemas dan didesain agar anak-anak pelajar di sekolahnya memiliki pengalaman dalam membuat makanan kue lokal khas tradisional sekaligus agar mengenal kudapan asli asal daerahnya. 

      "Alhamdulillah semua ini bisa terlaksana, ini atas kerjasama antara kami para dewan guru bersama orang tua siswa untuk melatih anak-anak mengenal dan mempelajari secara praktek langsung, sehingga mereka mampu secara mandiri membuat kue-kue tradisional di daerahnya," ujar Hida.

      Pihaknya berharap agar pada pribadi siswa-siswinya tertanam dimensi kebhinekaan global bagi anak-anak, dan bisa menghormati, mencintai karya kearifan lokal nenek moyang terdahulu, 

     "Ini sengaja kita angkat agar para siswa-siswi kami tidak dikenalkan kembali dengan khazanah kuliner yang pernah dibuat para nenek moyang kita terdahulu yang kini sudah hampir punah," terang Hida.

     Ditambahkan Hida, giat tersebut juga bisa untuk menanamkan budaya gotong-royong dan kekompakan antar kelompok masing-masing,            "Ini juga penanaman nilai kebersamaan. Seperti halnya mereka memiliki tugas dan membawa bahan kue antara satu sama lain yang dikumpulkan dalam satu kelompok. Tujuan adanya kegiatan ini untuk memotivasi anak-anak agar ke depannya terangsang mengembangkan makanan tradisional agar bangkit dipasaran sehingga bisa meningkatkan ekonomi," katanya.

    Adapun varian kue makanan tradisional yang tersaji didagangkan anak-anak pelajar SDN Bejod 1 itu, antara lain, kue sasagon, gegetuk, gegeplak, gegemblong, gogonyol, dodongklang, klepon, inil, rengginang, rempeyek, enye-enye, tape ketan, wedang jahe, bubur bolohok, jojorong, kakacangan, katimus, cuhcur, kaniarem, salimpe, jawadah, kue satu, bakecrot, lagendar, cangkaruk, kripik jengkol, apem cukit, simpring, gipang dan banyak lagi yang lainnya.

     Sementara, Korwil Pendidikan Kecamatan Wanasalam Suyono mengapresiasi giat tersebut yang diharapkannya dapat menjadi inspirasi bagi sekolah lain.

     "Semoga kreativitas yang dilaksanakan oleh anak-anak dan Guru di SDN 1 Bejod untuk program P-5 ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain agar bisa mengikuti dan menanamkan bakat pada anak-anak agar bisa membuat dan mengenal makanan kue tradisional khas daerah yang sudah langka diproduksi," terangnya 

     Senada, Camat Wanasalam, Dadan R Wardana Camat Kecamatan Wanasalam sangat tersentuh dengan adanya kegiatan tersebut dan pihaknya meminta makanan khas kearifan lokal daerah harus tetap dilestarikan agar setiap generasi tetap mengenai. Tambahnya, hal tersebut juga punya potensi bisa mendongkrak pendapatan ekonomi masyarakat.

      "Salut luar biasa, Ini merupakan kegiatan awal yang sangat bagus dan perlu dibina terus untuk dikembangkan agar anak-anak generasi milenial tahu bahwa makanan tradisional nenek moyang kita juga banyak jenisnya, sehingga generasi saat ini tidak terputus pemahaman sejarahnya. Selain itu supaya mereka juga tidak terkontaminasi dengan makanan-makanan modern yang sekarang cukup banyak, yang malah  justru banyak mengandung kimia," ujar Dadan. (Adek)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.