News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

HRS Divonis 4 Tahun, Kasus Swab RS Ummi

HRS Divonis 4 Tahun, Kasus Swab RS Ummi

Rieziek Sihab saat menjalani sidang kasus Swab RS Ummi
Jakarta, LineNews.id - Penggagas gerakan revolusi akhlak, Ustadz Habib Rizieq Shihab (HRS) divonisnya empat tahun penjara dalam putusan sidang di PN Jakarta Timur dalam perkara kasus tes usap di RS Ummi Bogor, Kamis (24/06).      

Disebutkan, Majlis Hakim yang diketuai Hakim Khadwanto memvonis HRS lebih ringan 2 tahun dari tuntutan yang diajukan tim JPU, yakni 6 Tahun penjara. Dalam putusan, HRS dinyatakan bersalah melanggar Pasal 14 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Selanjutnya HRS langsung menyatakan banding.       

 "Mengadili, menyatakan Terdakwa Muhammad Rizieq Shihab terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana, turut serta menyebarkan berita bohong dengan sengaja mengakibatkan keonaran," kata hakim ketua saat membacakan putusan, Kamis (24/06).        

Dalam hal ini, HRS dinyatakan bersalah melanggar Pasal 14 ayat (1) UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.       

 "Menjatuhkan pidana penjara Terdakwa Muhammad Rizieq bin Husein Shihab alias Habib Muhammad Rizieq berupa dengan pidana penjara selama 4 tahun penjara," ungkap hakim.       

Selanjutnya, hakim menyatakan HRS terbukti menyiarkan berita bohong. Karena bukti dalam vidio yang diunggah youtobe RS Ummi, HRS menyatakan dirinya sehat. Padahal, menurut hakim, saat itu dia statusnya reaktif Covid-19 berdasarkan hasil tes swab antigen.    

 Sementara, tervonis HRS seperti dilansir dari detik.com langsung menolak putusan tersebut dan menyatakan banding.     

 "Jadi dengan dua alasan tadi saya sampaikan majelis hakim dengan ini saya menolak putusan majelis hakim dan saya menyatakan banding," kata Rizieq usai pembacaan putusan di PN setempat.       

Menurut HRS, ada sejumlah hal yang tidak bisa diterimanya dalam putusan tersebut, salah satunya adalah perihal saksi forensik.       

"Ada beberapa hal yang tidak bisa saya terima, di antaranya adalah menentukan dasar mengajukan saksi ahli forensik, padahal di pengadilan ini saksi ahli forensik tidak pernah ada," tutur HRS.        

"Masih banyak lagi yang tidak bisa saya sebutkan," imbuhnya.        

Anggota Penasihat Hukum HRS, Sugito Atmo juga menyatakan hal serupa. Kata dia, HRS memutuskan akan mengajukan banding. "Kami dari penasihat hukum juga akan menyatakan banding atas putusan tersebut," paparnya. (Adnin)

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.