News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

HORIZON JUMAT: Khalwat Lisan

HORIZON JUMAT: Khalwat Lisan

(Ilustrasi) 
Oleh: Ustadz Mukhlish

Diam adalah menahan diri dalam maksud tidak menggunakan lisan, tidak mengobral bicara, terutama yang tidak berfaedah dan tidak mengumbar retorika pada sesuatu hal tertentu, kendati dalam wilayah tausyiah. Inilah salah satu jalan keselamatan bagi lisan manusia.

Dari Abu Umamah, bahwasanya ‘Uqbah bin ‘Amir bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah keselamatan itu?” Beliau menjawab: “Jagalah lidahmu, berpuaslah dengan rumahmu, dan menangislah untuk dosa-dosamu.”

(Hr.Tirmidzi).

Syeikh Ad Daqqaq berkata : “Diam mencerminkan rasa aman dan merupakan aturan yang mesti dilaksanakan. Penyesalan akan mengikutinya apabila orang terpaksa mencegahnya. 

Seharusnya dalam diam, mempertimbangkan di dalamnya hukum syara’, perintah-perintah dan larangan-larangan harus dipatuhi di dalam sikap diam. Dalam waktu yang tepat adalah termasuk sifat para tokoh. Begitu pun bicara pada tempatnya merupakan karakter yang mulia.”

Diam adalah salah satu sikap yang layak dalam menghadiri majelis, karena Allah Swt berfirman:

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rakhmat.”

(Qs. Al-A’raf :204).

Dari uraian keterangan di atas, betapa besar perbedaan antara seorang hamba yang diam, menjaga dirinya dari bicara bohong dan fitnah, dengan hamba yang banyak bicara tanpa faedah. 

Adapun mengenai makna pernyataan ini, para Sufi juga mendendangkan nada-nada ini :

Kulihat bicara menghiasi orang muda. Sedang diam adalah paling baik bagi yang tenang. 

Karenanya, betapa banyak huruf yang membawa maut, dan betapa banyak pembicara yang berangan seandainya ia bisa DIAM.

Tetapi tentunya keterangan-keterangan itu cuma menjurus pada diam lahir, oleh karenanya mari kita lihat statmen para tokoh ulama selanjutnya: 

Sahl bin Abdullah menegaskan : “Diam seorang hamba tidak akan sempurna, kecuali sesudah ia memaksakan diam atas dirinya.”

Abu Bakr al-Farisy mengatakan : “Apabila tanah kelahiran seorang hamba bukanlah diam, maka hamba tersebut akan berbicara berlebihan, meskipun tidak mempergunakan lidahnya. Diam tidak terbatas pada lidah, tetapi meliputi hati dan semua anggota badan.”

Mumsyad ad-Dinawary berkata : “Orang-orang bijak mewarisi kebijaksanaan dengan diam dan berkontemplasi.”

Dikatakannya pula : “Apabila seorang hamba berbicara hanya mengenai sesuatu yang menyangkut kepentingannya, dan keharusan-keharusan bicaranya, maka ia termasuk diam.

Mu’az bin Jabal RA berkata : “Kurangilah berbicara berlebihan dengan sesama manusia dan perbanyaklah berbicara dengan Tuhanmu, mudah-mudahan hatimu akan (dapat) melihat-Nya.”

Dzun Nuun al-Mishry pernah ada yang tanya : “Di antara manusia, siapakah pelindung terbaik bagi hatinya?” Dijawab Dzun Nuun : “Yaitu orang yang paling mampu menguasai lidahnya.”

Ali bin Bukkar mencatat : “Allah menjadikan dua pintu bagi segala sesuatu, tetapi Dia menjadikan empat pintu bagi lidah, yaitu dua bibir dan dua baris gigi.”

Abu Hamzah al-Baghdady adalah seorang pembicara ulung. Pada suatu ketika sebuah suara menyeru kepadanya : “Engkau berbicara, dan bicaranya sangat bagus. Sekarang tinggalah bagimu untuk berdiam, sehingga engkau menjadi bagus!” Akhirnya ia tidak pernah lagi berbicara yang tidak berfaidah sampai wafat menjemputnya.

Dikatakan : “Diam bagi kaum awam dengan lidahnya; diam bagi kaum yang ma’rifat kepada Allah Swt, dengan hatinya, dan diam bagi para pecinta (muhibbin) adalah menahan pikiran menyimpang yang menyelusup pada hati sanubari meraka.”

Sebagian Sufi mengisahkan :

“Aku mengekang lidahku selama tigapuluh tahun, sehingga aku tidak mendengar ucapan kecuali dari kalbuku. Kemudian aku mengekang kalbuku tiga puluh tahun, sehingga tidak mendengar kalbuku kecuali ucapanku.”

Salah seorang Sufi mengatakan : “Jika lidah Anda di diamkan, maka belum tentu Anda telah diselamatkan dari kata hati Anda. Jika Anda telah menjadi batang tubuh yang kering kerontang, Anda masih belum terbebas dari kata-kata hawa nafsu Anda. Dan bahkan jika Anda berjuang dengan susah payah, jiwa Anda masih belum akan berbicara dengan Anda, sebab ia adalah tempat tersimpannya batin.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata : “Barangsiapa memperhitungkan kata-katanya dibanding amalnya, maka kata-katanya akan menjadi sedikit, kecuali apa yang berarti (menurut kebutuhannya).”

(Ilustrasi) 
Dari beberapa stitment tadi, diam bukan berarti cuma dimulut (lahir) saja, tetapi batin pun dituntut diam dengan aturannya.

Sebenarnya ada dua jenis diam : Diam lahir dan diam batin. Hati orang yang tawakal adalah diam pada ketentuan rezeki yang diberikan. Sedang orang arif, hatinya diam untuk berhadapan dengan ketentuan melalui sifat keselarasan. Yang pertama ialah dengan senantiasa memperbagus pebuatannya secara kokoh, dan yang kedua, merasa puas terhadap semua yang ditetapkan oleh-Nya.

Alasan untuk diam boleh jadi merupakan ketakjuban yang disebabkan oleh pemahaman secara mendadak, lantaran apabila masalah tertentu tiba-tiba tampak jelas, maka kata-kata menjadi bisu dan tidak ada kefasihan maupun ucapan. Dalam situasi seperti ini, kesaksian terhapuskan dan tidak dijumpai baik pengetahuan maupun penginderaan.

Prioritas dalam mujahadah adalah diam, sebab mereka mengetahui bahaya yang terkandung dalam kata-kata. Mereka juga menyadari bahaya nafsu bicara, memamerkan sifat-sifat mengundang pujian manusia dan ambisi untuk meraih popularitas di kalangan sejawatnya karena keindahan tutur katanya.

Mereka menyadari bahwa ini semua termasuk dalam kelemahan-kelemahan manusia. Ini merupakan gambaran orang yang terlibat dalam olah ruhani. Diam sebagai salah satu prinsip bagi aturan tahapan dan penyempurnaan akhlak.

Semoga tulisan ini menginspirasi kita untuk bisa diam baik lahir maupun diam batin, disertai bimbingan taufiq dan maghfirah dari yang maha menggerakan.

Amin. Wallahu'alambhisawabi ***

- Penulis adalah pemerhati dunia Tasyawuf dan penyuka Falaqiyah, tinggal di Banten selatan.

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.