News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

HORIZON JUM'AT: Bolehkah Mempelajari Tentang Ruh?

HORIZON JUM'AT: Bolehkah Mempelajari Tentang Ruh?

Oleh : Ust Ulis Mukhlis

Ada suatu pandangan tentang tidak boleh terlalu jauh jika mempelajari hal Ruh, dan ini terkadang memicu pemikiran kritis para pemikir keilmuan. 

Berawal dari petikan Alqur'an surat al-Isra ayat 85 :

ﻭَﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻧَﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺮُّﻭﺡِ ﻗُﻞِ ﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻲ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻭﺗِﻴﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺇِﻻَّ ﻗَﻠِﻴﻼً 

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, (katakanlah wahai Muhammad) bahwa ruh itu urusan Tuhanku, dan tidaklah kuberikan ilmu kepada kalian kecuali sedikit."

Ayat di atas yang sesungguhnya memiliki satu substansi, namun pemahamannya sering dipenggal oleh sebagian kalangan kendati tujuan edukasi, sehingga menjadi dua substansi. Sepenggal ayat yaitu :

ﻭَﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻧَﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺮُّﻭﺡِ ﻗُﻞِ ﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻲ "

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, (katakanlah wahai Muhammad) bahwa ruh itu urusan Tuhanku..." 

Penggalan di atas sering dijadikan dalil bahwa Ruh jangan dipelajari. Sedangkan penggalan ayat yang lainnya yaitu:

  ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻭﺗِﻴﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺇِﻻَّ ﻗَﻠِﻴﻼً 

"Dan tidaklah kuberikan ilmu kepada kalian kecuali sedikit." 

Ayat ini kerap dijadikan dalil untuk menutupi kekurangan pengetahuan. Padahal dampaknya sangat signifikan terhadap kemunduran umat islam, diantaranya:

1. Umat islam jangankan mengolah Ruh, mempelajarinya saja jadi tak berani. Padahal menurut Al Ghazali dalam kitabnya Ihya-u 'Ulumiddin, Ruh itu satu makna dengan qalbu, yakni dimensi ketuhanan dalam diri manusia, merupakan pusat kontrol manusia itu sendiri. 

Apabila Ruhnya baik maka baik pula tingkah lakunya, dan apabila Ruhnya rusak, maka rusak pula tingkah lakunya. 

Contoh, saat Subuh, kebanyakan orang hanya shalat di rumah apa dimasjid?, Pastinya di rumah. Ketika merasa sakit, itu yang sakit badannya apa Ruhnya? Jelas Ruhnya. Orang yang malas, baik dalam beribadah ataupun bekerja, sebenarnya yang sakit/malas itu bukan badannya, tapi Ruhnya, dan banyak lagi dampak negatif yang disebabkan sakitnya ruh. 

2. Umat islam banyak yang merasa cukup dengan ilmu yang sudah dimiliki, tidak mau meningkatkan kemampuan. Bahkan ada yang sampai putus asa karena dicekoki dengan pemahaman 'Wamaa uutiitum minal ilmi illa qolilla', "Manusia itu ilmunya sedikit."

Di sini jika dikaji menggunakan ilmu nahwu dan balaghoh dengan benar, ayat tersebut tidaklah bermaksud seperti yang disebutkan tadi di awal. 

Di suatu pengajian, di sini ada sepenggal telaah dari terjemah dan surahan dari KH Zezen ZA Bazul Asyhab terhadap ayat tersebut : "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, maka katakanlah bahwa ruh itu urusan Tuhanku dan benar-benar telah kuberikan ilmu tentang Ruh kepada kalian semua dalam kadar sedikit". 

Mengapa beliau menerjemahkannya seperti demikian? Berikut uraiannya,

Satu :

   ﻭَﻳَﺴْﺄَﻟُﻮﻧَﻚَ ﻋَﻦِ ﺍﻟﺮُّﻭﺡِ ﻗُﻞِ ﺍﻟﺮُّﻭﺡُ ﻣِﻦْ ﺃَﻣْﺮِ ﺭَﺑِّﻲ ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻭﺗِﻴﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺇِﻻَّ ﻗَﻠِﻴﻞ Antara penggalan ayat pertama

 dan kedua dihubungkan dengan "wau" yang menurut Ilmu Nahwu merupakan huruf athaf, yang bermakna muthlaqul jam'i, artinya kedua penggalan ayat itu memiliki kesatuan substansi. Jangan ada pemisahan substansi' 

Dua :

 ﻭَﻣَﺎ ﺃُﻭﺗِﻴﺘُﻢ ﻣِّﻦ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺇِﻻَّ ﻗَﻠِﻴﻼً

Kata 'Maa', yang ada pada kalam di atas adalah Maa nafi, yang kemudian diikuti oleh istisna (lafadz illa). Dalam ilmu balaghah, susunan seperti itu disebut qashar/takhshis (membatasi/ mengkhususkan).

Dalam Jauhar al Maknun, Syekh Abdurrohman al Akhdhori menyebutkan 

ﻭﺍﺩﻭﺍﺕ ﺍﻟﻘﺼﺮ ﺍﻻ ﺍﻧﻤ ﻋﻄﻒ ﻭﺗﻘﺪﻳﻢ ﻛﻤﺎ ﺗﻘﺪﻣﺎ 

Karena susunan ayat tadi termasuk qashar/takhsis, maka itu diterjemahkannya dengan "Dan benar-benar telah kuberikan". 

 ﻣِّﻦ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢِ ﺇِﻻَّ ﻗَﻠِﻴﻼً 

Kemudian lafadz 'ilmu' pada ayat di atas menggunakan alif lam. Dalam qawaidul irab, alif lam fungsinya banyak, diantaranya lil'ahdidzdzihni, artinya menyimpan makna mengenai suatu hal yang sudah disebut sebelumnya. Maka ilmu yang dimaksud pada ayat QS: Al Isra : 85 adalah ilmu tentang Ruh, karena sebelumnya membicarakan tentang Ruh. 

Berdasarkan penelaahan di atas, maka lahirlah terjemah surat al Isra ayat 85 menjadi : "Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, maka katakanlah bahwa ruh itu urusan Tuhanku... Dan benar-benar telah kuberikan ilmu tentang ruh kepada kaluan semua dalam kadar sedikit."

Apabila terjemahannya demikian, maka informasi yang kita terima pun berubah. Bukan kita 'tidak boleh' mempelajari Ruh, tapi justru 'harus'. Disebutkan ilmu tentang Ruh yang Allah berikan sedikit, itu menurut ukuran Allah. Sedikit menurut Allah adalah maha banyak dalam ukuran manusia. 

Ibaratnya kita memancing di kolam, lalu dapat ikan mas sebesar paha orang dewasa, tentu kita mengatakan itu ikan yang amat besar. Namun kalau kita mancing ikan di laut, tentunya ikan sebesar paha itu jadi terasa kecil. Karena dilautan yang luas, kita bisa menemukan ikan yang lebih besar lagi, seperti paus.

Syekh Abdul Qadir Al-Jailany adalah seorang ahli ilmu, Hafidzul Qu'ran, beliau hafal al Qu'ran pada usia 10 tahun. Selama hidupnya beliau menyusun puluhan kitab, di bidang tasawuf, fiqih, tauhid, tafsir dan lainnya.

Seperti halnya membicarakan tentang sosok Syekh Abdul Qadir, jangan hanya disebutkan karamahnya saja, ke pendekarannya saja, karena itu akan membentuk opini terbatas tentang sosok sang syekh itu. Namun, kita juga mesti sampaikan pula kecerdasan beliau dalam bidang-bidang lain. Wallahu'alam bishawabi. ***

- Penulis adalah penyuka tasawuf dan pengkaji falaqiyah, tinggal di Banten Selatan

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.