News Breaking
Live
wb_sunny

Breaking News

Horizon Jumat, Antara Kemuliaan, Pujian dan Kehinaan

Horizon Jumat, Antara Kemuliaan, Pujian dan Kehinaan

Oleh : Ust Ulis Mukhlis

. (من أكرمك فإنما أكرم فيك جميل ستره فالحمد لمن سترك ليس الحمد لمن أكرمك وشكرك..... (الحكم لابن عطاء الله)

Sahabat, seringkali kita mabuk kepayang dan lupa diri yang diikuti rasa Angkuh dan Pongah

ketika orang lain tampak seolah memuliakan dan menghormati serta mencium tangan kita.

Sebagai tanda hormatkah dari mereka?

Apakah hakikinya itu juga sekaligus berarti adalah tanda keagungan dan kemulyaan diri kita?

Sadar tak sadar, mudah terbersit keangkuhan, rasa tinggi dan mulia dan diiringi kesombongan, menjadi hiasan yg kita banggakan bahkan 

kadang kita kejar dengan berbagai cara untuk mendapatkannya.

Dalam konteks agama, nabi menjelaskan hal itu sebagai sifat Takabur (sombong) yang didefinisikan sebagai 

بطر الحق وغمط الناس

Menolak kebenaran (بطر الحق ) karena "merasa" pintar (padahal itupun belum teruji sebenarnya pintar, lebih hanya berdasarkan assumsi subjektif diri yang "merasa" pintar) sekaligus "merendahkan" orang lain, memandang rendah, melecehkan dan anggap dirinya lebih tinggi. 

Dalam tradisi kita, hal itu diistilahkan dengan sebutan Congkak, Pongah dan Angkuh.

Alih-alih memperlakukan orang lain dengan bermartabat, menghargai, menyayangi dan mencintai orang lain sebagai saudaranya.

Orang yang Angkuh cenderung bersikap negatif, “merasa” lebih mulia serta memandang sebelah mata dengan pandangan menghina dan merendahkan orang lain yg dia anggap dibawah derajatnya, serta kerap bersikap negatif thinking (Suuddzon), tak suka, tak bersahabat bahkan membenci orang lain.

Sahabat, manakala orang lain memuliakan dan menghormati kita, seringkali kita tertipu dan terlena. Bahwa bukan sejatinya , bukan sebenarnya dan sehakikinya diri kita mulia, tapi semua itu tak lebih semata mata karena "tertutupnya" sifat2 buruk kita di mata orang lain, dan yg tampak pada penglihatan orang lain adalah 

kebaikan dan kesolehan kita. Padahal yang sebenarnya adalah "keindahan sifat jamal, jalal serta latiif Alloh yang "menutupi" banyaknya aib dan keburukan kita.

Semua sifat keindahan Alloh itu menjadi "saatir/hijab/penghalang, hingga tak terlihat aib dan keburukan diri kita yg sebenarnya.

Keindahan sifat jamal Alloh itulah yang "menghijab", menjadi penutup keburukan kita dan yang tampak bagi orang lain adalah kebaikan dan kesolehan kita.

Sahabat, entahlah jika Alloh tak tutupi segala keburukan kita, jika Alloh tampakkan di hadapan manusia segala aib dan keburukan kita, niscaya tak ada seorangpun mau mendekat, tak akan ada yang yang sudi menghormat dan mencium tangan kita.

لو لا جميل ستره

ما نظروا اليك بعين الرضاء

"jika bukan karena keindahan "saatir" hijab penghalangnya, niscaya tak akan ada seorang makhluk pun yg akan memuliakan dan menghormati kita."

Jadi, Masih pantaskah kita merasa sombong dan mulia, Congkak, Pongah dan Angkuh, merasa besar dan memandang rendah orang lain di atas segala aib dan keburukan diri kita yang sengaja ditutupi oleh Alloh, yang hakiki hanya keburukan diri kita yang tertutup, diselimuti keindahan sifat Alloh...

يظنون بي خيراً وما بي من خير ..

. ولكنني عبد ظلوم كما تدري

سترت عيوبي كلها عن عيونهم ..

. وألبستني ثوباً جميلاً من الستر

فصاروا بحبوني وما أنا بالذي .

.. يحب ولكن شبهوني بالغير

فلا تفضحني في القيامة بينهم .

.. وكن لي يا مولاي في موقف الحشر

 "..Robii.. dalam sangka mereka, aku baik padahal sama sekali tidak. Sesungguhnya aku mahluk dzalim sebagai mana kau amat tahu... akan tetapi, Kau tutupi segala keburukanku dari pandangan mereka, Kau kenakan padaku pakaian keindahan pinjamanMu untuk menutupinya...

Dengan sebab itu, mereka mencintaiku dan memuliakanku. padahal aku sama sekali tak layak dicintai dan dimuliakan. akan tetapi mereka menyamakan diriku dengan yg lain.

Yak tak tidak pantas aku memiliki kemuliaan dan keagungan itu Robii.. pintaku nanti di yaumil qiyamah, jangan kau tampakkan semua aib keburukanku diantara manusia dan senantiasa jagalah aku, tetap bersamaku di yaumil mahsyar. Ya maulaya.

Semoga kita dapat mengendalikan ego yang melahirkan keangkuhan terdalam pada diri kita masing-masing, dan senantiasa bersikap positif thingking, menghargai dan mencintai orang lain sebagai saudara. Walahu'alambishawabi 

Penulis adalah pengkaji tasawuf dan pemerhati kajian Falaqiyah, tinggal di Malingping, Lebak selatan

Tags

Newsletter Signup

Sed ut perspiciatis unde omnis iste natus error sit voluptatem accusantium doloremque.