Kisah Seorang Nelayan Yang Selamat Dari Terjangan Maut Tsunami Sumur 2018


Bencana alam Tsunami yang menerjang sebagian wilayah Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang pada tahun 2018 lalu masih menyisakan kepedihan bagi para korban yang selamat, terutama bagi Anang, seorang nelayan yang telah berjuang melawan terjangan ombak yang menggulung dirinya malam itu.

Anang menceritakan kisah perjuangannya melawan maut ditangah badai ombak yang hampir saja menenggelamkannya. Baiklah, Namaku Anang, usiaku 36 tahun, teman-teman biasa memanggilku dengan sebutan Bonang. Aku tinggal disebuah perkampungan tepat berada di Kampung Cipunaga, Desa Tunggaljaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang.

Aku adalah seorang Nelayan yang biasa melaut dengan menggunakan perahu kecil dan dayung panjang yang hanya bisa dimuat oleh satu orang saja, semua orang disini biasa menyebutnya dengan Jukung.

Sore itu, sabtu, 22 desember 2018, hari nampak cerah diiringi dengan semilir angin yang menampar dengan lembut, setelah Ashar seperti biasa Istriku meyiapkan perbekalan seadanya untuk  bekal ku semalam di laut nanti.

"Istriku "jangan melaut lah malam ini, perasaanku tidak enak, akupun menjawab dengan lembut : "tidak apa apa, sepertinya hari ini cuaca sedang mendukung untuk aku pergi melaut, lautnya sedang rata, mudah-mudahan banyak ikan yang akan kudapat malam ini, do'akan saja yang terbaik untukku ya istriku".

Kuraih peralatan pancing dan dayung panjang itu serta bekal yang sudah disiapkan oleh Istriku, aku berjalan menyusuri jalan setapak dan pesawahan sebelum akhirnya aku sampai di Muara tempat dimana Jukung (perahu kecil) ku tambatkan.

Tak seperti biasanya aku berkeinginan untuk mengambil Air wudhu sebelum aku menaiki perahuku untuk berlayar mencari ikan. Ku perhatikan keadaan di sekeliling, karena merasa malu dan akan terlihat asing jika ada seseorang yang melihatku. Aku pun kemudian berwudhu di muara tersebut.

Setelah semua itu kurasa selesai ku buka tali pengikat Jukung itu dan perlahan-lahan aku mulai mengayuhkan dayung menuju ke tengah laut tempat dimana akan kudapati banyak ikan di dalamnya, setelah kurang lebih satu jam aku berdayung, dari kejauhan nampak terlihat dua buah perahu kecil lainnya, dalam hati aku berharap semoga itu teman temanku yang berangakat lebih awal dari aku, ku arahkan perahu ku ke arah dua perahu tersebut. Benar saja, setelah aku hampiri  mereka ialah tetanggaku Juheni dan Jaya, aku pun  merasa senang sebab  ada teman untuk sekedar mengobrol dan bercanda.

Anang: " hai kawan, kali ini kearah mana kita akan mulai mancing? (tanyaku)"

Jaya: "eh nang, mending kita mulai memancing dekat Pulau Badul saja kata orang orang Ikannya banyak.

Juheni :" boleh tuh, hayu siap kita kesana saja sahut juheni".

Setelah sepakat kami pun mulai mendayugkan perahu menuju arah pulau badul, sesampainya disana barulah kami menurunkan alat pancing masing masing.

Matahari mulai tenggelam membuat suasana kala itu begitu indah, dengan pandangan yang samar kulihat dari arah Pulau Badul ada beberapa tenda dan api unggun yang menyala di iringi suara orang orang bernyanyi dan tertawa riang, rupanya di Pulau Badul ini terdapat beberapa pengunjung yang sedang berlibur.

Malam yang cerah di iringi dengan gemintang membuat malam itu menjadi sempurna dengan keindahannya, laut kala itupun tak kalah indah terlihat seperti hamparan perak, disaat yang bersamaan sesekali kulihat dan aku dengar suara dentuman keras dan pancaran api yang menyembur ke atas jauh ditengah lautan sana, tentu itu bukanlah suara petasan dan kembang api yang sering kita nyalakan pada malam tahun baru.

Melainkan suara letusan anak Gunung Krakatau yang sejak minggu terakhir ini selalu mengeluarkankan suara dentuman keras, bagi kami suara itu sudah bukan lagi sesuatu yang asing, karena telah menjadi sesuatu yang sudah biasa di Bulan bulan tertentu, kami pun tidak merasa terusik atau waswas dan memutuskan untuk tetap pergi memancing berharap akan ada banyak ikan yang kami dapat malam ini.

Waktu menjelang pukul 21:00, WIB Kami pun akhirnya memutuskan untuk berpencar dan tidak lagi memancing di satu spot yang sama .

Jaya :"Nang saya mau pergi memancing di sebelah sana, apa kamu mau ikut?" Tanya jaya

Juheni :"yuk kita pindah aja, barangkali ikan disana lebih banyak".
Namun tidak dengan aku, aku lebih memilih untuk tetap disini
Anang :"ga lah saya disini aja, kalau kalian ingin pergi, pergi saja namun tetap hati hati ya jawabku"

Selang beberapa waktu setelah kepergian kedua temanku , Aku melihat sebuah Perahu lain mendekati dan hampir saja menabrak perahu ku, Seandainya aku tidak berdiri dan berteriak.

Aku :"hey awas menabrakku.

Seseorang didalam perahu menyahut kearah ku :"maaf ku kira tidak ada perahu lain selain perahuku.

Aku tahu itu bukanlah perahu temanku yang tadi, setelah semakin dekat dan perahu itu menghindari perahuku, terlihat dengan jelas ternyata ia adalah pamanku yang berangkat melaut juga. Dan itulah malam terakhir aku bertemu dengan pamanku untuk terakhir kali nya.

Setelah itu tiba tiba aku mendengar dari kejauhan suara yang bergemuruh sangat keras, dan aku berpikir itu suara pesawat tempur. Tanpa aku sadari aku sudah terhempas jauh dalam keadaan bingung dan panik, Aku berusaha untuk terus bertahan agar tidak terlepas dari perahuku. Dalam hatiku bertanya, apakah ini Tsunami???

Setelah beberapa waktu baru ku sadari ternyata ini memang benar-benar Tsunami dan disaat yang bersamaan aku mendengar suara orang orang menjerit dan berteriak di pulau Badul, kemudian suara suara itupun mulai menghilang dan hanya ada suara ombak yang sangat bergemuruh dan memekikan telinga.

Aku pun terus mengayuh perahuku dengan sekuat tenaga, Sepanjang pengalaman hidupku, inilah pengalaman yang paling menakutkan.

Sambil terus bergumam "Yaa Allah..  yaa Allah selamatkanlah aku dan keluargaku." Masih dalam keadaan panik aku terus mengayuh perahuku, Aku pasrah karena ketika aku kembali melihat ombak yang kedua bergulung gulung sangat tinggi mulai menerjangku  lagi. Hatiku berkata"Ya ALLAH ya ALLAH kenapa cara kematianku tragis seperti ini?."

Mungkin hanya pertolongan Allah lah yang membuat aku selamat dari terjangan ombak hingga dua kali. Dalam keadaan sangat panik dan putus asa aku terus mengayuh perahuku tanpa araha entah kemana, karena aku tidak bisa melihat dimana daratan yang nampak hanya buih buih putih dari sisa terjangan ombak tadi.

Tiba tiba dari arah depanku ada kapal Nelayan yang mengangkut Nelayan yang selamat. Tanpa pikir panjang aku berteriak dan minta tolong,

"tolong aku disini, tolong jangan ditinggal tolong."

Rupanya seseorang penumpang di Kapal itu ada yang mendengar teriakanku dan menyorotiku dengan lampu senter.

Seseorang di kapal berkata, "ada suara minta tolong, itu ada orang lagi yang selamat di perahu."

Kemudian kapal itu mulai menghampiriku, dan perahu yang kugunakan untuk memancing ikan itu aku tinggalkan begitu saja dan langsung naik ke kapal tersebut. Aku di angkut ke daerah yang menjadi pusat pengungsian, akhirnya kami sampai di sebuah perkampungan kampung Sumur namanya, kemudian Kapal bersandar langsung ke daratan. Sesampainya di kampung Sumur, aku melihat sekelilingku dan semuanya sudah rata dengan tanah.

Aku pun terus berjalan diantara sisa-sisa reruntuhan Rumah dan bangunan yang sudah hancur. Saat itu telintas dipikiranku apakah aku dan teman temanku yang berada dikapal tadi saja yang masih hidup? Dengan pikiran waswas dan takut akupun terus berjalan sembari memperhatikan keadaan dan terlihat ada beberapa mayat yang tertimbun pasir dan puing puing reruntuhan.

Air mataku terus mengalir membasahi pipi, tidak terasa perjalananku untuk menuju rumahku sudah jauh, aku mencoba untuk berhenti sekedar melepas lelah karena sudah jauh bejalan di suatu perkampungan dan ternyata kampung itu kampung Ciputih yang tidak terkena ombak tsunami dan hanya sebagian saja yang terkena ombak.

Aku bersyukur "alhamdulilah kampung ini tidak terkena dampak tsunami, aku berharap semoga  saja kampungku juga tidak terkena tsunami seperti kampung Ciputih ini."

Tiba-tiba seseorang kembali mengalihkan pandanganku dari sebrang sana seseorang tengah memanggilku, 

"hey siapa disana?" Tanya seseorang, 
"aku Anang"
"ooohh kamu Nang alhamdulilah selamat sini" ia memanggil,
"Ia alhamdulilah selamat".
Tenyata saya mengenalinya, Udin namanya,
"eh kak Udin dikirain siapa"
 "ia nang ini aku Udin,
"terus kampungku gimana kak  terkena tsunami juga ga?"
katanya sih engga kena nang. "alhamdulilah semoga keluargaku selamat, terus keluarga kak udin pada dimana?"
"Ngungsi udah ditempat yang aman,"
Setelah dirasa cukup, akupun kembali pamit, "kak Udin aku mau pulang aja."
"ia Nang hati-hati."

Dengan hati lega akupun melanjutkan perjalanan, dan akhirnya aku sampai di rumah dengan jarak tempuh dari pantai dimana aku turun itu kurang lebih 8 km, rumahku sudah didepan mata akupun berlari, ternyata istri dan orang tua ku semuanya sedang berada diluar rumah, dan akupun langsung memanggil mereka,

"istriku, ibuuuu, bapaaaa, aku selamaaaaat." semua takjub melihatku mereka menyambutku dengan penuh haru dan rasa syukur karena aku telah selamat dari kejadian itu, Hingga saat ini masih terasa seperti mimpi dan tak percaya bila mengingat kejadian malam itu. Aku pun bersyukur karena masih diberi keselamatan begitu juga dengan semua keluargaku.

Penulis  : Budi
Editor   : Haes Rumbaka

Tidak ada komentar untuk "Kisah Seorang Nelayan Yang Selamat Dari Terjangan Maut Tsunami Sumur 2018"

CopyAMP code
CopyAMP code