Mari Bercermin Diri Pada Cara Kita Berdialog Di Media Sosial


Oleh : Imam B Prasodjo

Di tengah situasi sulit kita menghadapi cobaan wabah virus korona, saya beberapa kali mencoba menulis, mengungkapkan pikiran saya di FaceBook (FB) ini. Saya coba sekuat tenaga untuk berpikir objektif, menyumbang pemahaman, mencari jalan keluar, lepas dari beragam kepentingan, kecuali kepentingan kita bersama sebagai bangsa.

Melalui diskusi di media sosial ini, saya memang berharap akan tumbuh dialog sehat, saling berbagi pikiran, berbagi pengalaman, guna mencari solusi berbagai masalah besar yang sedang kita hadapi.

Terus terang, banyak tanggapan (walaupun singkat) yang mencerahkan pikiran dan membesarkan hati. Namun tak sedikit yang menulis komentar tajam, terkadang penuh emosi dan kecurigaan. Saya sering termenung membaca perdebatan sengit yang menjurus pada upaya saling melukai, saling menyakiti, dan hampa akan esensi.

Atas dasar keprihatinan inilah, berikut ini, saya coba menuliskan kembali apa yang dahulu pernah saya tayangkan. Saya merasa penting untuk menyampaikan tulisan ini agar para sahabat yang sering menyumbangkan waktu berdiskusi dapat ikut membantu membangun iklim dialog sehat. Bila kita biarkan iklim saling menghujat, FB ini akan menjadi media yang sangat tidak menyenangkan.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Harga yang harus dibayar suatu negeri yang terlalu lama mengalami pemerintahan otoritarian adalah rendahnya kemampuan masyarakat dalam berkomunikasi. Iklim penindasan telah menjauhkan masyarakat dari kebebasan berbicara dan berekspresi sehingga ketrampilan berkomunikasi pun menjadi rendah.

Padahal, komunikasi, menurut J├╝rgen Habermas, adalah prasyarat penting dicapainya pemahaman bersama (mutual understanding). Sedang tumbuhnya kemampuan berkomunikasi secara rasional (communicative rational action), merupakan prakondisi bagi tercapainya konsensus-konsensus rasional yang sangat bermakna dalam demokrasi.

Bila demokrasi diartikan sebagai cara masyarakat beradab menegosiasikan perbedaan-perbedaan kepentingannya untuk mencapai suatu konsensus rasional, maka adanya kemampuan berkomunikasi secara rasional menjadi mutlak diperlukan.

Karena kemampuan berkomunikasi menempati kedudukan sangat penting, maka mau tidak mau, kita harus mendorong tumbuhnya iklim dialog yang sehat.

Bila dialog diartikan sebagai pertukaran ucapan antara dua pembicara secara bergantian untuk mencapai tujuan kolektif dengan menggunakan argumen rasional, maka beberapa jenis dialog perlu difahami (lihat Douglas Walton 1992, hal. 19-23).

Pertama, adalah *persuasion dialogue*. Dialog ini dilakukan untuk meyakinkan teman bicara tentang suatu pendapat. Tujuan dari dialog ini adalah memecahkan masalah perbedaan pendapat dengan menggunakan argumen rasional. Berargumen secara rasional berarti memberikan seperangkat alasan-asalan logis atau bukti-bukti  yang valid untuk mendukung suatu pendapat tertentu (Anthony Weston 1987, hal. xi). Tiap pihak dalam proses dialog ini harus memiliki komitmen pada kekuatan logika sebagai dasar berargumen, bukan komitmen kepada yang lain.

Kedua, *information-seeking dialogue.* Tujuan dialog ini adalah untuk mendapatkan informasi tentang suatu hal. Karena pencarian informasi adalah tujuan utamanya, maka pencari informasi harus dapat membangun iklim yang nyaman bagi pemberi informasi. Karena itu sikap “friendly” menjadi sangat penting. Dalam dialog ini percakapan dapat berbentuk advice-solicitation dialogue yang bertujuan untuk mencari saran dari orang lain, atau expert consultation dialogue, melakukan konsultasi kepada orang yang dianggap ahli guna menyelesaikan suatu masalah.

Ketiga, *negotiation dialog.* Dalam dialog ini, kedua pihak melakukan tawar-menawar tentang kepentingan tertentu, dengan tujuan akhir tercapainya suatu kesepakatan/perjanjian/transaksi. Dalam dialog ini, masing-masing pihak perlu menjajaki hal-hal yang dianggap paling dibutuhkan/dipentingkan pihak lain. Jadi masing-masing pihak tidak hanya memikirkan kepentingan sendiri saja. Untuk mudahnya mencapai kesepakatan, dalam dialog ini, tenaga profesional dapat diundang untuk menjalankan peran sebagai mediator.

Ketiga jenis dialog ini tentu berbeda dengan apa yang disebut quarrel (percekcokan). Dalam quarrel tiap-tiap pihak mencoba melontarkan kata-kata untuk menyakiti hati lawan, dan bila mungkin, mempermalukannya secara telak. Quarrel biasanya dipicu oleh kejadian remeh temeh tetapi membakar emosi. Pihak yang terlibat dalam quarrel umumnya bersikap keras kepala dan kekanak-kanakan.

Saat terjadi quarrel, kedua pihak berupaya menyalurkan seluruh emosi yang paling dalam yang sebelumnya tak tersalurkan—suatu emosi yang tidak pantas untuk dimuntahkan saat diskusi atau sidang terhormat. Quarrel bukanlah teman baik bagi orang-orang yang ingin membangun argumen logis. Dus, tidak pula perlu dikembangkan bila kita ingin membangun demokrasi.

***
Untuk membangun iklim dialog yang sehat memang diperlukan latihan cukup. Membiasakan diri menerima kritik dari orang lain dan mendengarkan berbagai pendapat yang berbeda, atau bahkan yang sangat bertolak-belakang dengan pendapatnya sendiri, akan sangat membantu seseorang untuk tidak mudah terpancing emosi saat melakukan dialog. Seseorang biasanya mudah sekali terperangkap pada sikap reaktif bila ia telah terpancing emosi.

Namun, apapun keahlian komunikasi yang dimiliki peserta dialog, biasanya sulit melakukan dialog jujur tanpa adanya sikap egaliter. Padahal, sikap egalitar itu  menjadi bagian penting bagi tumbuhnya demokrasi itu sendiri.

David Held (1987, hal. 271) mensinyalir, bila iklim democratic autonomy tumbuh, maka, “tiap-tiap individu bebas dan sejajar dalam menentukan nasib dirinya, yakni mereka harus memiliki kesamaan hak (dan, juga kesamaan kewajiban”. Karena itulah, individu-individu yang terbiasa hidup dan dibesarkan dalam lingkungan feodalistis, akan banyak mengalami kesulitan untuk melakukan dialog yang sehat, dan pada gilirannya akan sulit pula diharapkan untuk menjalankan proses demokratisasi.

Agar iklim dialog dapat tumbuh sehat, perlu dihindari cara-cara berargumentasi yang mengandung kepalsuan (fallacies). Menurut Douglas Walton (1992, hal. 2-3), terdapat empat argumen yang biasanya dianggap sebagai kepalsuan:

Pertama, adalah *argumentum ad populum*. Ini jenis argumen yang disusun untuk menarik sentimen/emosi publik atau massa agar massa ikut tergiring mendukung kesimpulan argumen tersebut. Argumen jenis ini juga disebut sebagai argumen “penarik massa” (mob appeals). Para politisi di Indonesia, saat kampanye Pemilu seringkali tergoda untuk menggunakan argumen ini dengan mengekspoitasi sentimen-sentimen primordial—suku, ras, agama, untuk menggiring massa agar menerima gagasannya tanpa berfikir panjang. Kini, para pendukung fanatik partai, juga sering melestarikan kebiasaan buruk ini, walaupun pemilu sudah berakhir. Menurut Engel (1976, hal. 114), argumen jenis ini dianggap keliru karena mengarahkan kita pada kesimpulan melalui nafsu daripada akal sehat.

Kedua, *argumentum ad misericodiam*. Argumen ini dianggap palsu karena mengeksploitasi rasa belas kasihan dalam mencari dukungan. Strategi yang dikembangkan dalam argumen ini adalah mempengaruhi orang lain dengan cara membangkitkan simpati maupun rasa keharuan.

Ketiga, argumentum ad baculum. Argumen ini palsu karena mengarah pada suatu ancaman, atau paksaan, atau menimbulkan rasa takut agar orang lain mendukung kesimpulan argumen yang dikemukakannya. Argumen jenis ini biasanya dimunculkan bila bukti-bukti nyata untuk mendukung suatu argumen dianggap tidak mempan lagi, atau argumen rasional dianggap mengalami kegagalan.

Keempat, argumentum ad hominem. Ini jenis argumen yang paling berbahaya dan seringkali merusak jalannya diskusi yang sehat. Dalam argumen jenis ini, serangan yang bersifat pribadi terhadap lawan bicara dilakukan. Menurut Fearside dan Holther (1959), argumen jenis ini adalah cara yang umum dan efektif, walaupun menjijikkan, untuk memenangkan perdebatan. “Tak ada argumen yang lebih mudah dilakukan tetapi sulit melawannya, daripada argumen membunuh karakter seseorang.” Bila argumen ini diluncurkan maka seringkali terjadi adu mulut yang bersifat pribadi. Diskusi sehat yang hendak dibangun di media sosial seringkali hancur karena para peserta diskusi sering tergoda untuk melakukan kekeliruan ini.


Dari urian ini, dapat disimpulkan bahwa untuk membangun iklim dialog publik yang sehat di media sosial, agaknya diperlukan proses pembelajaran tersendiri. Komposisi peserta dialog yang terdiri dari berbagai latar belakang tingkat pendidikan, pemahaman agama, afiliasi politik, dan kedewasaan merupakan tantangan tersendiri bila budaya berargumen (the argument culture) yang bersifat rasional hendak dibangun. Namun, dengan datangnya iklim kebebasan berpendapat (freedom of speech) di era reformasi ini mudah-mudahan akan mempercepat proses pembelajaran ini.

Karena itu, antusiasme berbicara dan memberi komentar, baik yang bersifat reaktif ataupun hasil perenungan yang dalam, harusnya segera diikuti hasrat dan tanggung-jawab untuk membangun iklim komunikasi sehat. Tanpa itu, kebebasan yang kini kita miliki, baik karena adanya iklim demokrasi ataupun teknologi komunikasi yang tersedia, hanya akan menjadikan kita terpecah belah karena kita telah saling menyakiti. Agar kita tak tercebak pada lubang kenistaan, mari kita bercermin diri, dan baca kembali jejak digital kita. Teruskan yang baik, tinggalkan yang memalukan.

(Penulis adalah Sosiolog dan pengamat politik)

Tidak ada komentar untuk "Mari Bercermin Diri Pada Cara Kita Berdialog Di Media Sosial"

CopyAMP code
CopyAMP code