Hidup Harmonis Ditengah Perbedaan


LineNews.id - Indonesia, ah iya, Indonesia, ada segunduk rasa bangga saat menyebut namanya. Negara dengan keanekaragaman budaya dan sumber alam yang melimpah ruah. Indonesia, di luar sana, selain dikenal dengan keindahan alamnya, juga terkenal dengan budaya yang sangat beragam. Sekarang coba kita bayangkan, Negara yang sedang kita tempati ini memiliki 35 provinsi dan di setiap provinsi punya keanekaragamannya budaya masing-masing. Luar biasa bukan?

Keanekaragaman ini bisa kita lihat dari hal yang paling sederhana, sebutlah misalnya busana, bahkan dalam satu provinsi bisa memiliki lima corak pakaian adat. Belum lagi bahasa, satu bahasa daerah bisa saja memiliki empat dialek. Belum lagi kuliner, upacara adat dan sebagainya.

Perbedaan ini seharusnya bisa mengantarkan kita pada sikap toleran. Karena, mengingat kosekuensi dari keragaman adalah bahwa setiap etnis memiliki cara hidup, sudut pandang, dan karakteristik yang berbeda. Bisa jadi, apa yang kita anggap kurang cocok di suatu daerah, malah hal yang biasa di daerah yang lain. Hal itu, jika tidak didasari dengan rasa toleran, tentu berpotensi menimbulkan konflik.

Kita ambil contoh Aceh, misalnya. Di Aceh setidaknya memiliki 13 bahasa, yaitu: Aceh, Gayo, Aneuk Jamee, Singkil, Alas, Tamiang, Kluet, Devayan Sigulai, Pakpak, Haloban, Leukon dan Nias. Setiap bahasa memiliki kekhasannya masing-masing, ada bahasa dengan intonasinya yang keras, ada yang lembut.

Namun di era globalilasi, kebudayaan yang ada di Indonesia bisa saja akan melemah karena tingginya peminat budaya luar dan berkembang pesatnya budaya luar di Indonesia.

Akibat Dari Kebudayaan Bangsa Barat yang masuk ke Indonesia sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif bagi masyarakat Indonesia. Dampak positifnya misalnya kreatifitas, inovasi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, disiplin hidup, profesionalitas dan sebagainya. Akan tetapi dampak negatifnya juga tidak kalah besar terhadap kebudayaan Indonesia, terlebih di kalangan remaja.

Dampak negatif kebudayaan asing atau barat terhadap masyarakat Indonesia sudah sampai di tahap memprihatinkan,  terkhusus pada kaula muda yang diharapkan menjadi penerus bangsa Indonesia. Kecendrungan para remaja sudah mulai melupakan kebudayaan bangsa sendiri.

Budaya ikut-ikutan atau latah contoh yang paling mudah kita temui adalah gaya busana. Para kaula muda tidak ingin dikatakan kuno, kampungan atau semacamnya jika tidak mengikuti gaya busana ala barat karena dinilai sebagai tren, modern, dan mengikuti perkembangan jaman, meski gaya busana yang di tawarkan memperlihatkan aurat yang dilarang oleh ajaran agama serta bertentangan dengan adat istiadat masyarakat Indonesia secara turun temurun.

Cara berpakaian dan mode, pergaulan bebas dan hidup dengan berhura-hura yang di nilai dengan prilaku yang berbeda arah, baik secara agama maupun sosial juga menjadi polemik bagi kebudayaan Indonesia. Yang membuat prihatin adalah umumnya kaula muda Indonesia yang berprilaku ikut-ikutan tanpa selektif sesuai dengan nilai agama yang dianut dan adat kebiasaan yang masyarakat Indonesia miliki sehingga pada akhirnya para kaula muda lebih menyukai kebudayaan barat dari pada budaya sendiri.

Maka kami mengajak para pemuda penyambung cita-cita bangsa bersatu untuk memperbaiki konsumtif yang mungkin akan membuat budaya kita sendiri menjadi redup pada suatu saat. Banyak cara untuk kita dapat perbaiki polemik ini dengan menanamkan kembali rasa cinta terhadap budaya Indonesia, mengadakan dan mengajak ke festifal kebudayaan contohnya, mencintai serta menggunakan produk-produk dalam negeri atau memadukan antara budaya Indonesia dengan budaya luar yang menggambarkan bahwa Indonesia adalah negara sosial yang mampu hidup berdampingan tapi tetap menjadi tuan rumah dengan segala kekayaan budayanya.

Tidak ada komentar untuk "Hidup Harmonis Ditengah Perbedaan"

CopyAMP code
CopyAMP code