COVID-19 DAN POLITIK


Oleh : Goenawan Mohamad

Cerita Amerika: di tengah wabah virus yang sudah membunuh sekitar 40 ribu orang,  timbul gerakan di Arizona, Colorado, Montana dan Washington memprotes penutupan wilayah, menyusul protes di 6 negara bagian lain.

Presiden Trump cenderung segera membuka kembali lokdon (atau pembatasan). Beberapa kepala Negara bagian menentang.  Kepala Negara Bagian New York bahkan akan memperpanjang aturan “jangan-keluar-rumah.”

Demokrasi memang tak mudah.   Terutama ketika negara dalam keadaan pandemi ini — keadaan yang  belum pernah dialami sepanjang sejarah dunia sejak abad ke-20.

Di seberang Amerika:  RRT dengan bangga memperlihatkan kelebihan sistemnya dalam gerak cepat mengalahkan Covis-19.   Kita tak menyalahkan itu.  Tapi kebanggaan ini, jika kita ikuti Majalah terkemuka “The Economist”, bisa mendorong orang-orang RRT ke arah fanatisme nasionalis, atau menghalalkan pengamatan terus menerus Negara atas kehidupan privat warganya, dengan teknologi canggih.

Di Indonesia, apa yang terjadi? Menghadapi serbuan Covid-19, kita melihat kebijakan Presiden Jokowi yang bagi sejumlah pakar wabah tak cukup cepat dan tegas.

Saya bukan pakar wabah, maka saya mengajukan tiga catatan untuk itu.

Pertama, seperti hampir semua negara di dunia, Indonesia memang tak siap menghadapi Covid-19. Atau terlambat. Memang mula-mula Menteri Kesehatan dan seluruh Kabinet  meremehkan wabah ini — sesuatu yang patut disesali. Tapi apa boleh buat: ini serbuan kilat virus yang sebelumnya tak dikenal luas — dan ini wabah yang belum pernah dialami Republik ini sejak lahir.

Kedua, para pakar bisa mengagumkan mutu informasinya tentang virus, tapi agaknya —mungkin karena spesialisasi ilmunya — mereka cenderung tidak melihat sisi sejarah. Seperti saya katakan di atas, ini wabah yang belum pernah dialami sebelumnya di bagian dunia manapun.  Ia memergoki manusia abad ke-21. Hampir semua negeri tak benar-benar faham dan siap.. Hanya para pakar yang tahu seluk-beluk Covid-19 — tapi sayang sekali para pakar tak dipilih rakyat untuk  duduk sebagai pengambil keputusan, dan kadang-kadang tak didengar pihak yang berkuasa, atau, apa boleh buat, hanya sebagian yang dianggap pantas didengar.

Ketiga, jarak sangat samar, sangat tipis antara ketegasan penguasa dan kesewenang-wenangan. Juga tak mudah ditentukan apakah sebuah keputusan menunjukkan gerak cepat atau sebuah langkah tergopoh — seperti yang dibicarakan para “pengamat” tentang keputusan lokdon pemerintah India. 

Sayangnya Negara harus memakai birokrasi untuk bertindak. Dan di Indonesia, birokrasi ini  sudah terlalu lama tak direformasi. Negara juga — berbeda dengan para spesialis — harus mempertimbangkan dampak ekonomi yang siapa tahu sama buruknya dengan akibat pandemi Covid—19.  Para pemimpin di manapun sekarang berada dalam dilema.  Dan dilema tak sama dengan problem matematika atau teka-teki silang.  Dilema menyangkut sikap ethis seseorang dan nilai-nilainya.  Ia tak hanya dihadapi “otak”. Ia melibatkan seluruh eksistensi.

***

Kita kini tengah memasuki masa yang paling suram dalam sejarah Indonesia sejak republik ini dilahirkan. Penyakit, kematian, pengangguran, kebangkrutan mengepung sekaligus.

Bersama itu kita tak tahu, apa yang akan terjadi setelah krisis ini usai.  Orang sudah mulai berbicara, misalnya Paul Krugman, pemenang Hadiah Nobel Ekonomi, bahwa pandemi akan berhenti, tapi  demokrasi akan tergerus. Atau orang mulai melihat, bahwa sistem perekonomian — yang kini di mana-mana ditentukan Negara — akan berubah:  apa yang disebut tatanan “neo-liberal” akan tak laku.

Banyak yang harus dilakukan, banyak yang harus direnungkan.

Terus terang saya cemas, kita hanya melihat soal ini dengan sikap partisan dalam politik, atau jor-joran siapa yang “lebih tahu”, hingga diskusi dan percakapan mengalami distorsi.

Untunglah, dalam kemuraman ini, kita melihat tindakan bersama atau sendiri-sendiri untuk menolong mereka yang paling terpukul.   Sebab hari-hari ini bukan kepintaran yang memberi inspirasi, melainkan tindakan setiakawan.

Jakarta, 20 April 2020.

_Penulis adalah wartawan senior_

Tidak ada komentar untuk "COVID-19 DAN POLITIK"

CopyAMP code
CopyAMP code